Membuat Konten Blog Pakai Ai Ya Repot Juga | SeedSteam | Blog La Acun

Membuat Konten Blog Pakai Ai Ya Repot Juga

Menulis konten menggunakan artificial intelligence

Baru saja baca tweet dari Nathan Gotch di Twitter tentang cara membuat artikel menggunakan software atau program berbasis AI namun tetap mempertimbangkan aspek SEO dan diklaim bisa tetap nge-rengking di mesin pencari.

Lebih tepatnya, ada 10 tips yang dibagikan. Tapi setelah dipikir sejenak, ya repot juga.

Bagaimana tidak, kebanyakan layanan generator konten berbasis AI ini sudah pasti yang direkomendasikan itu adalah versi berbayar (butuh biaya).

Sebut saja yang populer saat ini seperti Jasper.ai dimana langganan bulanan untuk bisa menghasilkan tulisan dengan total jumlah kata 35k memerlukan biaya $49.

Jika di-Rupiah-kan dengan kurs $1 sama dengan Rp. 13.500,- saja, maka berlangganan paket Starter ini harus mengeluarkan dana sebanyak Rp. 661.500,-

Untuk skala bisnis publikasi digital, biaya tersebut kita anggap saja masih terjangkau dari sudut pandang seorang pebisnis.

Apalagi jika rata-rata artikelnya hanya mengandung 500-750 kata, maka biaya tersebut bisa untuk memproduksi setidaknya 47-70 artikel.

Jadi biaya per artikelnya sekitar 9 ribuan hingga 14k Rupiah. Masih sangat murah dan terjangkau bagi mereka yang benar-benar pebisnis untuk menggunakan layanan Ai content.

Apalagi untuk artikel bahasa inggris, tentu itu sangat murah sekali karena biaya per artikelnya paling mahal hanya $1.

Untuk blogger luat negeri mah, biaya segitu gak terasa. Tapi dari sini juga lah bias dan kekurangan layanan semacam itu bisa kita analisa.

Yuk kita kembali ke tweet Nathan Gotcha yang berusaha menyampaikan bagaimana agar hasil tulisan Ai tetap human-friendly dan juga ramah mesin pencari.

Ia seolah menyarankan bahwa hasil akhir dari Ai jangan langsung dipublikasi begitu saja.

Bahkan sebelum memulai proses, ia juga mengingatkan untuk memperlakukan tool Ai sebagaimana layaknya seorang penulis yang membutuhkan briefing (input informasi).

Tidak sampai disitu, ia melanjutkan agar user juga tetap melakukan fact-checking, meng-generate 1 sesi (misalnya 1 paragraf) dalam 1 waktu, perbaikan grammer menggunakan Grammerly, memeriksa tingkat keunikan artikel, optimasi konten dengan memanfaatkan NLP (Native Language Processing), membuat gambar unik sendiri hingga tahap promosi konten itu sendiri.

Dari berbagai hal atau tips yang disarankan, penggunaan Ai dalam proses produksi konten yang tentu saja menbutuhkan biaya ini juga tampaknya membutuhkan waktu editing yang juga tidak sebentar demi mengajari si-Ai itu sendiri.

Lah, bukannya memudahkan, ternyata malah tambah repot. Butuh biaya pula. Dan jika dipikir kembali, mending menulis artikel secara manual saja kalau begitu.

Menurut saya, banyak juga yang pasti sudah sadar dan tahu bahwa ai content generator yang menghasilkan auto-generate content itu hasilnya memang jauh dari sempurna.

Akan tetapi jika sudah melibatkan dana meskipun kecil dan perlu tambahan waktu yang juga tidak sedikit, tujuan memakai Ai pada tahap ini tidak diperlukan oleh pemilik website.

Jatuhnya malah hanya sibuk mengajari progran Ai nya dan kita harus membayar untuk itu. Untung di developernya saja donk kalau begitu.

Kalaupun harganya memang sangat murah atau bahkan sedikit lebih mahal lagi, menurutku akan banyak yang tetap tertarik memakainya jika bisa membantu mengurangi waktu kerja.

Selama itu tidak terjadi, ya ngapain.

Ini hanya pendapat saya saja dan tidak bermaksud apapun.

Hanya ingin mengingatkan kepada lainnya jika benar-benar menggunakan tool Ai terutama yang berbayar, baiknya ketahui secara mendalam apa sebenarnya manfaatnya untuk pengguna.

Apalagi dalam kaitannya dengan pengelolaan situs dan juga adanya ketergantungan terhadap mesin pencari untuk mendatangkan trafik.

Misalnya Google sendiri juga mengembangkan AI untuk mendeteksi konten yang dibuat oleh robot.

Malah tambah khawatir dan mending membuat artikel SEOsendiri saja. Hitung-hitung sebagai latihan. Juga untuk meningkatkan kualitas menulis.

Tool Ai semacam Jasper, ChatGPT dan lain sebagainya tentu akan hadir dengan segala manfaat, tapi layakkah dipakai dengan biaya yang ditawarkan? Bisakah tool seperti itu benar-benar membantu produktivitas atau malah sebaliknya dan sama saja dengan menulis manual?

Silahkan alami sendiri.